Bagian 1
Hari minggu ini aku dan teman – temanku berencana berkumpul
di sekolah. Kami akan mengerjakan tugas mengarang sebuah cerita bersambung.
Tugas ini sebenarnya adalah tugas mandiri. Tetapi, berhubung aku sudah
menyelesaikan tugas ini terlebih dahulu, jadi mereka meminta aku untuk
membantu.
Teman –
temanku ini adalah Shiro dan Akira. Shino adalah cewek di kelasku yang pintar
menggambar, tetapi sama sekali tidak bisa mengarang sebuah cerita. Sedangkan
Akira, sebenarnya dia adalah orang dari kelas 9-5. Aku baru mengenal dia lewat
media sosial. Dia adalah ketua kelas 9-5.
Kami
berkumpul di kelas 9-4, kelasku. Berhubung bapak akmi tidak bertemu dengan
bapak satpam sekolah, jadi kami memutuskan untuk langsung mengambil kunci kelas
di Ruang Tata Usaha. Setelah mengambil kunci kelasku, Akira menulis pesan
disecarik kertas yang ia lipat menjadi dua.
Mungkin
di menulis pesan kepada bapak satpam sekolah. Ia menulis dengan sangat rapi dan
tebal dengan pensilnya. Setelah itu Akira merobek kertas itu menjadi dua lalu
menulis lagi di sisi kertas yang satunya. Kali ini ia menulis dengan sedikit
lembut. Lalu ia menempelnya di tempat kunci.
“Akira,
apa yang kau tulis?” Tanyaku padanya dengan curiga.
“Aku
menulis (Pak, saya ada di kelas 9-4 untuk mengerjakan tugas. Tolong jangan
dikunci.) agar kita tidak dikunci ketika di dalam kelas” Jawab Akira
Setelah
itu, aku menuju kelas dan membukanya. Shiro langsung berlari mengambil duduk di
dekat jendela dan tempat colokan listrik. Ia langsung membuka jendela dan
duduk. Berbeda dengan Akira, ia menghidupkan kipas angin kelas lalu menutup
jendela yang dibuka Shiro.
“Pakai
kipas angin saja ya?” Tanya Akira kepada Shiro ketika ia menutup jendela.
“Heeeeemmm,
tapi aku ingin pakai angin alami” Jawab Shiro
“Jangan
egois gitu dong, Shiro! Kipas anginkan lebih enak!” Akira membantah Shiro
dengan sedikit marah.
“Sudahlah
jangan marah kepada Shiro, Akira.” Aku menenangkan Akira.
“Ya
sudah. Tapi kita duduk di belakang ya? Soalnya kan di belakang banyak colokan
listrik dan kita bisa duduk di bawah sambil mengerjakan.” Balas Akira
“Setuju!
Di bawah lebih dingin jadi enak” Shiro menyetujui saran Akira.
“Eh,
Daegal, bisa kau kembalikan kuncinya? Ini kan kuncinya gabung dengan kunci –
kunci lain. Jadi kalau kunci ini kita bawa, nanti bapak satpam tidak bisa
mengecek ruang kelas lain.” Akira menyuruhku dengan nada sopan.
“Baiklah”
Jawabku.
Aku
cepat – cepat berlari menuju kantor Tata Usaha mengembalikan kunci ke tempatnya
lalu langsung kembali. Aku khawatir dengan Shiro berduaan dengan Akira.
Setelah
aku sampai ke kelas. Akira langsung memulai pekerjaannya mengarang cerita
bersambung. Shiro tampak kebingungan dengan pekerjaannya. Aku langsung
menghampiri Shiro dan memberikan ide cerita padanya. Shiro setuju dengan ide cerita
yang aku sarankan. Akhirnya kami bertiga tenggelam akan suasana mengerjakan
tugas kami masing – masing, kecuali aku tentunya yang sudah selesai.
Setelah
satu jam kami mengerjakan, aku merasa haus. Aku memutuskan untuk keluar
sebentar membeli minum. Tetapi, hal aneh terjadi.
Pintu
yang seharusnya tadi terbuka, kini tertutup rapat. Awalnya aku pikir itu hanya
kebodohanku tidak bisa membuka pintu. Tetapi, setelah ku coba lagi dan meminta
bantuan kepada Akira. Ternyata pintu itu benar – benar terkunci.
Shiro
yang saat itu berpikir kalau kami bisa meminta bantuan seseorang langsung
mengeluarkan handphonenya. Sialnya, ternyata handphone Shiro kehabisan baterai.
Shiro akhirnya meminjam handphone Akira. Akira berkata kalau handphonenya tidak
ada baterainya. Ia menghampiri tasnya lalu mengambil handphonenya yang benar –
benar tidak ada baterainya.
Aku
menyuruh Akira keluar lewat jendela lalu membukakan pintu dari luar. Akira
menyetujuinya dan ia langsung membuka jendela lalu melompat keluar.
Di
dalam kelas aku menemani Shiro. Kami bercanda di dalam kelas untuk mencairkan
suasana. Dan akhirnya satu pertanyaan terlontar dari mulutku. “Shiro, menurutmu
siapa yang mengunci pintu? Dan apa tujuannya?”