Pilih mana yang anda suka

Minggu, 07 April 2013

Kasus Sekolah

Bagian 1

Hari minggu ini aku dan teman – temanku berencana berkumpul di sekolah. Kami akan mengerjakan tugas mengarang sebuah cerita bersambung. Tugas ini sebenarnya adalah tugas mandiri. Tetapi, berhubung aku sudah menyelesaikan tugas ini terlebih dahulu, jadi mereka meminta aku untuk membantu.

Teman – temanku ini adalah Shiro dan Akira. Shino adalah cewek di kelasku yang pintar menggambar, tetapi sama sekali tidak bisa mengarang sebuah cerita. Sedangkan Akira, sebenarnya dia adalah orang dari kelas 9-5. Aku baru mengenal dia lewat media sosial. Dia adalah ketua kelas 9-5.

Kami berkumpul di kelas 9-4, kelasku. Berhubung bapak akmi tidak bertemu dengan bapak satpam sekolah, jadi kami memutuskan untuk langsung mengambil kunci kelas di Ruang Tata Usaha. Setelah mengambil kunci kelasku, Akira menulis pesan disecarik kertas yang ia lipat menjadi dua.

Mungkin di menulis pesan kepada bapak satpam sekolah. Ia menulis dengan sangat rapi dan tebal dengan pensilnya. Setelah itu Akira merobek kertas itu menjadi dua lalu menulis lagi di sisi kertas yang satunya. Kali ini ia menulis dengan sedikit lembut. Lalu ia menempelnya di tempat kunci.



“Akira, apa yang kau tulis?” Tanyaku padanya dengan curiga.

“Aku menulis (Pak, saya ada di kelas 9-4 untuk mengerjakan tugas. Tolong jangan dikunci.) agar kita tidak dikunci ketika di dalam kelas” Jawab Akira

Setelah itu, aku menuju kelas dan membukanya. Shiro langsung berlari mengambil duduk di dekat jendela dan tempat colokan listrik. Ia langsung membuka jendela dan duduk. Berbeda dengan Akira, ia menghidupkan kipas angin kelas lalu menutup jendela yang dibuka Shiro.

“Pakai kipas angin saja ya?” Tanya Akira kepada Shiro ketika ia menutup jendela.

“Heeeeemmm, tapi aku ingin pakai angin alami” Jawab Shiro

“Jangan egois gitu dong, Shiro! Kipas anginkan lebih enak!” Akira membantah Shiro dengan sedikit marah.

“Sudahlah jangan marah kepada Shiro, Akira.” Aku menenangkan Akira.

“Ya sudah. Tapi kita duduk di belakang ya? Soalnya kan di belakang banyak colokan listrik dan kita bisa duduk di bawah sambil mengerjakan.” Balas Akira

“Setuju! Di bawah lebih dingin jadi enak” Shiro menyetujui saran Akira.

“Eh, Daegal, bisa kau kembalikan kuncinya? Ini kan kuncinya gabung dengan kunci – kunci lain. Jadi kalau kunci ini kita bawa, nanti bapak satpam tidak bisa mengecek ruang kelas lain.” Akira menyuruhku dengan nada sopan.

“Baiklah” Jawabku.

Aku cepat – cepat berlari menuju kantor Tata Usaha mengembalikan kunci ke tempatnya lalu langsung kembali. Aku khawatir dengan Shiro berduaan dengan Akira.

Setelah aku sampai ke kelas. Akira langsung memulai pekerjaannya mengarang cerita bersambung. Shiro tampak kebingungan dengan pekerjaannya. Aku langsung menghampiri Shiro dan memberikan ide cerita padanya. Shiro setuju dengan ide cerita yang aku sarankan. Akhirnya kami bertiga tenggelam akan suasana mengerjakan tugas kami masing – masing, kecuali aku tentunya yang sudah selesai.

Setelah satu jam kami mengerjakan, aku merasa haus. Aku memutuskan untuk keluar sebentar membeli minum. Tetapi, hal aneh terjadi.

Pintu yang seharusnya tadi terbuka, kini tertutup rapat. Awalnya aku pikir itu hanya kebodohanku tidak bisa membuka pintu. Tetapi, setelah ku coba lagi dan meminta bantuan kepada Akira. Ternyata pintu itu benar – benar terkunci.

Shiro yang saat itu berpikir kalau kami bisa meminta bantuan seseorang langsung mengeluarkan handphonenya. Sialnya, ternyata handphone Shiro kehabisan baterai. Shiro akhirnya meminjam handphone Akira. Akira berkata kalau handphonenya tidak ada baterainya. Ia menghampiri tasnya lalu mengambil handphonenya yang benar – benar tidak ada baterainya.

Aku menyuruh Akira keluar lewat jendela lalu membukakan pintu dari luar. Akira menyetujuinya dan ia langsung membuka jendela lalu melompat keluar.

Di dalam kelas aku menemani Shiro. Kami bercanda di dalam kelas untuk mencairkan suasana. Dan akhirnya satu pertanyaan terlontar dari mulutku. “Shiro, menurutmu siapa yang mengunci pintu? Dan apa tujuannya?”