Pilih mana yang anda suka

Minggu, 31 Maret 2013

Chapter 1

Awal dari Sebuah Cerita


“Krak” Aku menginjak sebuah bunga di tengah trotoar. Tangkai bunga itu panjangnya sekitar 10 centimeter. Bunga itu jika dalam perkiraanku adalah bunga mawar. Bunga mawar merah. Bunga ini dikatakan adalah lambang kasih sayang. Jika warnanya kuning berarti perpisahan, tetapi jika berwarna merah berarti pertemuan. Yah, itu mungkin hanya dalam pikiranku.

Aku mengambil bunga mawar itu. Lalu kupandang sebentar untuk memastikan bahwa itu benar – benar bunga mawar. “Apa bunga ini punya kaki dan jalan sendiri? Di sini kan tidak ada tumbuhan bunga mawar. Hah, apa pemilik rumah itu tadi tidak sengaja menjatuhkannya di trotoar ketika turun jalan masuk ke rumah? Mungkin bunga mawar ini tidak penting juga” Pikirku sambil memegang bunga mawar itu.

Satu yang aneh pada momen ini. Kenapa ada bunga mawar merah di trotoar? Di sini bahkan hanya ada pohon talok setinggi 4 meter , tanaman bunga melati yang belum berbunga, pohon pisang yang bahkan belum bertunas, dan beberapa tumbuhan tidak kuketahui namanya. Tanaman – tanaman itu tampak asri di halaman sebuah rumah.



Aku tepat berdiri di trotoar depan rumah itu. Rumah itu sederhana, tetapi terasa spesial karena halamannya yang asri. Kupu – kupu berterbangan kesana kemari, semerbak bau bunga melati yang khas, siulan dari burung gereja yang enak didengar, dan bahkan terbentuk pelangi indah diantara dedaunan. Sesuatu yang membuat rumah ini terlihat berbeda dengan rumah yang lain disekitarnya. Rumah ini tepat berada dipojok dekat dengan sungai yang mengalir tenang. Ketika setelah hujan seperti ini membuat rumah ini lebih mencolok dari rumah yang lain, karena cahaya matahari yang dipantulkan oleh titik – titik air. Sehingga membuat efek seperti rumah ini yang paling bersinar dibanding rumah yang lain.

Rumah ini terlihat seperti belum diberi cat. Masih terlihat seperti batu bata yang tersusun rapi. Tetapi jika kulihat secara cermat, rumah ini memang sengaja dibuat terlihat seperti itu. Teknik mengecat yang membuat rumah ini seperti rumah yang belum dicat. Aku serasa kembali ke tahun klasik, dimana desain rumah lebih mencolok pada bagian halaman dan rumah dibuat sesederhana mungkin.

Rumah ini memiliki satu pintu utama, ruang garasi yang besar dengan mobil yang terparkir di dalamnya, juga beberapa jendela yang gordennya terbuka. Ada satu jendela yang menarik pandanganku. Aku melihat sebuah piano. Piano itu tampak klasik dalam pandanganku di kejauhan.

Selang beberapa setelah aku takjub dengan pemandangan rumah itu, aku melihat seorang gadis kecil seumuranku yang duduk di kursi piano. Dengan asyiknya dia bermain piano dan meberdayaku dalam melodi – melodinya. Sebenarnya permainan pianonya sungguh luar biasa ditelingaku, tetapi entah kenapa ada beberapa suara dari piano yang dimainkannya mengganggu telingaku. Mungkin itu yang selama ini dikatakan guru seniku sebagai false atau kesalahan not nada saat bermain alat musik.

Aku termasuk orang yang tidak begitu tahu tentang musik saat ini. Bahkan ketika pelajaran kesenian tentang musik aku lebih memilih tidur daripada memperhatikan. Tetapi, ketika guru memainkan alat musik, aku tahu tentang kesalahan – kesalahan dari nada yang dimainkan. Bakatku ini dibicarakan guru seniku dan di menyebutku mempunyai “perfect pitch”

Hampir sepuluh menit aku termenung dan menikmati alunan nada piano yang dimainkan gadis itu. Sampai – sampai aku lupa untuk pulang ke rumah. Ketika aku mulai sadar dan melihat ke atas. “wah, ini kan sudah hampir maghrib” pikirku ketika melihat sang senja sudah mulai elok tampil di balik awan.

Sesaat sebelum aku akan melangkah pergi, aku merasa ada yang aneh. Aku merasa seperti ada yang menahanku melangkah pergi dari tempat berdiriku. Kemudian aku mendengar suara pintu terbuka dari rumah gadis itu. Sontak aku melihat ke arah rumah itu lagi. Ternyata yang membuka pintu adalah gadis yang memainkan piano tadi.

Gadis itu seperti seorang putri kerajaan menurutku. Ia memiliki tinggi yang melebihi tinggiku. Matanya berbinar seolah memiliki bintang. Wajahnya terlihat seperti orang china. Rambutnya lurus sebahu dengan warna hitam yang eksotis.

Baju yang ia pakai menambah kecantikannya. Ia memakai baju seperti putri di dongeng – dongeng yang sering kudengar. Baju putri kerajaan berwarna merah dengan gelang emas yang melingkar di pergelangannya. Ia sama persis cantik seperti putri dalam dongeng. Hanya putri ini tidak memakai mahkota.

“Hai” ia menyapaku dengan suaranya yang lembut. Aku tidak sempat membalas sapaannya. Malu atau apalah itu namanya, mungkin itu yang kurasakan ketika melihatnya. Aku langsung berlari menuju kearah rumah. Ketika berlari yang selalu dibenakku hanya bayang – bayang gadis itu. Semakin jauh aku meninggalkan rumah gadis itu, semakin berdebar hatiku.

“Tidak sadar atau memang aku sengaja membawanya?” Aku berpikir setelah melihat tanganku. Bunga mawar yang tadi kutemukan di depan rumah gadis itu tanpa sadar masih kubawa. Sambil tersenyum – tersenyum sendiri aku memandangi bunga mawar itu sambil membayangkan gadis yang seperti putri tadi.

“Aku akan menyimpan bunga mawar ini, mungkin bunga ini milik Sang Putri tadi dan ia sedang mencarinya. Jika bertemu dia lagi, aku berjanji akan memberikan ini kepadanya. Sabar ya Mawar, kamu akan kuberikan kepada pemilikmu lagi ketika waktunya sudah tepat.” Tanpa sadar aku mengucapkan janji pada bunga mawar itu. Bunga mawar merah yang kutemukan di depan Istana Sang Putri.