Awal dari Sebuah Cerita
“Krak”
Aku menginjak sebuah bunga di tengah trotoar. Tangkai bunga itu panjangnya
sekitar 10 centimeter. Bunga itu jika dalam perkiraanku adalah bunga mawar.
Bunga mawar merah. Bunga ini dikatakan adalah lambang kasih sayang. Jika
warnanya kuning berarti perpisahan, tetapi jika berwarna merah berarti
pertemuan. Yah, itu mungkin hanya dalam pikiranku.
Aku mengambil
bunga mawar itu. Lalu kupandang sebentar untuk memastikan bahwa itu benar –
benar bunga mawar. “Apa bunga ini punya kaki dan jalan sendiri? Di sini kan
tidak ada tumbuhan bunga mawar. Hah, apa pemilik rumah itu tadi tidak sengaja
menjatuhkannya di trotoar ketika turun jalan masuk ke rumah? Mungkin bunga
mawar ini tidak penting juga” Pikirku sambil memegang bunga mawar itu.
Satu
yang aneh pada momen ini. Kenapa ada bunga mawar merah di trotoar? Di sini
bahkan hanya ada pohon talok setinggi 4 meter , tanaman bunga melati yang belum
berbunga, pohon pisang yang bahkan belum bertunas, dan beberapa tumbuhan tidak
kuketahui namanya. Tanaman – tanaman itu tampak asri di halaman sebuah rumah.
Aku
tepat berdiri di trotoar depan rumah itu. Rumah itu sederhana, tetapi terasa
spesial karena halamannya yang asri. Kupu – kupu berterbangan kesana kemari,
semerbak bau bunga melati yang khas, siulan dari burung gereja yang enak
didengar, dan bahkan terbentuk pelangi indah diantara dedaunan. Sesuatu yang
membuat rumah ini terlihat berbeda dengan rumah yang lain disekitarnya. Rumah
ini tepat berada dipojok dekat dengan sungai yang mengalir tenang. Ketika
setelah hujan seperti ini membuat rumah ini lebih mencolok dari rumah yang
lain, karena cahaya matahari yang dipantulkan oleh titik – titik air. Sehingga
membuat efek seperti rumah ini yang paling bersinar dibanding rumah yang lain.
Rumah
ini terlihat seperti belum diberi cat. Masih terlihat seperti batu bata yang
tersusun rapi. Tetapi jika kulihat secara cermat, rumah ini memang sengaja
dibuat terlihat seperti itu. Teknik mengecat yang membuat rumah ini seperti rumah
yang belum dicat. Aku serasa kembali ke tahun klasik, dimana desain rumah lebih
mencolok pada bagian halaman dan rumah dibuat sesederhana mungkin.
Rumah
ini memiliki satu pintu utama, ruang garasi yang besar dengan mobil yang
terparkir di dalamnya, juga beberapa jendela yang gordennya terbuka. Ada satu
jendela yang menarik pandanganku. Aku melihat sebuah piano. Piano itu tampak
klasik dalam pandanganku di kejauhan.
Selang
beberapa setelah aku takjub dengan pemandangan rumah itu, aku melihat seorang
gadis kecil seumuranku yang duduk di kursi piano. Dengan asyiknya dia bermain
piano dan meberdayaku dalam melodi – melodinya. Sebenarnya permainan pianonya
sungguh luar biasa ditelingaku, tetapi entah kenapa ada beberapa suara dari
piano yang dimainkannya mengganggu telingaku. Mungkin itu yang selama ini
dikatakan guru seniku sebagai false atau kesalahan not nada saat bermain alat
musik.
Aku
termasuk orang yang tidak begitu tahu tentang musik saat ini. Bahkan ketika
pelajaran kesenian tentang musik aku lebih memilih tidur daripada
memperhatikan. Tetapi, ketika guru memainkan alat musik, aku tahu tentang
kesalahan – kesalahan dari nada yang dimainkan. Bakatku ini dibicarakan guru
seniku dan di menyebutku mempunyai “perfect pitch”
Hampir
sepuluh menit aku termenung dan menikmati alunan nada piano yang dimainkan
gadis itu. Sampai – sampai aku lupa untuk pulang ke rumah. Ketika aku mulai
sadar dan melihat ke atas. “wah, ini kan sudah hampir maghrib” pikirku ketika
melihat sang senja sudah mulai elok tampil di balik awan.
Sesaat
sebelum aku akan melangkah pergi, aku merasa ada yang aneh. Aku merasa seperti
ada yang menahanku melangkah pergi dari tempat berdiriku. Kemudian aku
mendengar suara pintu terbuka dari rumah gadis itu. Sontak aku melihat ke arah
rumah itu lagi. Ternyata yang membuka pintu adalah gadis yang memainkan piano
tadi.
Gadis
itu seperti seorang putri kerajaan menurutku. Ia memiliki tinggi yang melebihi
tinggiku. Matanya berbinar seolah memiliki bintang. Wajahnya terlihat seperti
orang china. Rambutnya lurus sebahu dengan warna hitam yang eksotis.
Baju yang ia pakai menambah
kecantikannya. Ia memakai baju seperti putri di dongeng – dongeng yang sering
kudengar. Baju putri kerajaan berwarna merah dengan gelang emas yang melingkar
di pergelangannya. Ia sama persis cantik seperti putri dalam dongeng. Hanya
putri ini tidak memakai mahkota.
“Hai” ia menyapaku dengan
suaranya yang lembut. Aku tidak sempat membalas sapaannya. Malu atau apalah itu
namanya, mungkin itu yang kurasakan ketika melihatnya. Aku langsung berlari
menuju kearah rumah. Ketika berlari yang selalu dibenakku hanya bayang – bayang
gadis itu. Semakin jauh aku meninggalkan rumah gadis itu, semakin berdebar
hatiku.
“Tidak sadar atau memang aku
sengaja membawanya?” Aku berpikir setelah melihat tanganku. Bunga mawar yang
tadi kutemukan di depan rumah gadis itu tanpa sadar masih kubawa. Sambil
tersenyum – tersenyum sendiri aku memandangi bunga mawar itu sambil
membayangkan gadis yang seperti putri tadi.
“Aku akan menyimpan bunga mawar
ini, mungkin bunga ini milik Sang Putri tadi dan ia sedang mencarinya. Jika
bertemu dia lagi, aku berjanji akan memberikan ini kepadanya. Sabar ya Mawar,
kamu akan kuberikan kepada pemilikmu lagi ketika waktunya sudah tepat.” Tanpa sadar
aku mengucapkan janji pada bunga mawar itu. Bunga mawar merah yang kutemukan di
depan Istana Sang Putri.